Ibadah Haji Perempuan Menurut Para Ulama Fikih

Ibadah-Haji-Perempuan-coverDalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan jumlah jamaah haji perempuan. Berdasarkan data dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama RI, perbandingan jumlah  jamaah  haji  laki-laki  dan jamaah   haji  perempuan  adalah  45 : 55 persen. Artinya, jumlah jamaah haji perempuan 10 persen lebih banyak dibandingkan jamaah haji laki-laki. Lihat tabel perbedaan jumlah jamaah berdasarkan jenis kelamin berikut.

Selain itu, terdapat indikasi bahwa meningkatnya jumlah jamaah haji perempuan rata-rata didominasi perempuan yang masih muda. Data statistik dari sumber yang sama menunjukkan bahwa jamaah haji yang berusia 50 tahun ke bawah sebanyak 44 persen, hanya tepaut sekitar 11 persen dengan jumlah jamaah haji yang berusia 50 tahun ke atas.

Data jumlah jamaah haji usia 18 tahun sampai dengan 50 tahun, akan terus mengalami peningkatan, karena 53,8 persen jumlah jamaah haji waiting list adalah usia 50 tahun ke bawah.

Data ini menunjukkan bahwa banyak jamaah haji perempuan yang berangkat dengan tidak ditemani oleh mahramnya. Hal itu juga menggambarkan betapa perempuan Indonesia memiliki semangat tinggi untuk menunaikan ibadah haji.

Kondisi ini tentu akan berdampak terhadap penyelenggaraan haji, terutama mengenai bimbingan manasik. Dalam kondisi normal, manasik haji perempuan dan laki-laki sama, kecuali pada hal-hal yang sudah lazim dialami perempuan, seperti tidak boleh membuka kepala, mengeraskan suara ketika membaca talbiah, tidak idtiba’ (tidak terbuka ketiaknya) ketika ihram, tidak lari-lari kecil ketika thawaf dan Sa’i, tidak mencukur rambut ketika tahallul dan hanya menggunting, memakai pakaian berjahit dan bertangkup, memakai sepatu, tidak memakai kaos tangan.

Namun jika dalam kondisi tertentu, saat melaksanakan haji atau umrah perempuan mengalami haid atau nifas misalnya, maka terdapat ketentuan hukum sendiri untuk melaksanakan manasik haji atau umrah mereka. Oleh karena itu, kebutuhan akan adanya penjelasan khusus tentang ibadah haji perempuan menurut ulama fikih sangat diperlukan, guna memudahkan jamaah haji perempuan dalam melaksanakan haji yang berkaitan dengan kondisi keperempuannya.

Buku karya Ahmad Kartono dan Sarmidi Husna ini merupakan kumpulan beberapa masalah hukum (fikih) haji perempuan yang sering muncul saat pelaksanaan haji. Di antara masalah tersebut adalah istitho’ah haji bagi perempuan, ihram bagi perempuan, hukum thawaf perempuan saat haid atau nifas, hukum menggunakan obat penahan haid, hukum tahallul (memtong rambut) perempuan saat haid atau nifas, hukum atau tatacara haji bagi waria dan lain sebagainya.

Masalah-masalah tersebut telah dibahas tuntas dalam buku ini secara fikih. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan haji bagi perempuan, Islam telah mengatur sedemikian rupa mengenai tata cara pelaksanaanya, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi para kaum hawa dalam melaksanakan ibadah haji, khusunya ketika dalam kondisi dan situasi yang berkaitan dengan keperempuanan.[]

Untuk mendapatkan buku ini, silahkan kunjungi toko-toko buku terdekat (Gramedia, Gunung Agung, Walisongo, dan lainnya) di Jakarta atau hubungi langsung penerbit Siroja/Prenada di 085888851103 (Sosy) dan bisa juga di 085814866877 (sarmidi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s