Memasak dalam Bingkai Peradaban

image

Memasak. Istilah yang demikian lekat dengan manusia, sejak kita mulai mengenal api untuk mengolah makanan. Sejak puluhan ribu tahun, memasak telah mengalami demikian banyak perubahan. Dari cara memasak, peralatan, jenis masakan, bahan, hingga penyajian, juga penentuan waktu-waktu tertentu untuk masakan tertentu dapat di sajikan.
Memasak saat ini bisa menjadi hal yang begitu rumit. Beragam prasyarat dan tata cara penyiapan, pengolahan, dan penyajian kadang mengacu pada kaidah-kaidah yang tak setiap orang dapat melakukan. Bahkan, syahdan kemudian semakin rumit setiap prosesnya, semaki  meningkat pula prestise para pelakunya. Tak heran secara khusus orang yang ingin serius dalam hal masak memasak, bisa jadi harus menempuh kelas-kelas khusus memasak.
Di dapur dapur restoran kelas atas, seorang juru masak menjadi sosok yang tak biasa. Seorang chief paling tidak telah memiliki sedemikian keahlian untuk mengolah bahan-bahan dan bumbu dengan terukur dan satu sama lainnya harus memiliki kadar yang tepat untuk menciptakan. Rasa yang tidak hanya pas, tetapi memiliki kekhasan. Sangat mungkin seorang chief memiliki spesialisasi tertentu pada masakan yang dihasilkannya. Kerumitan dan sejumlah aturan ketat ini kemudian bersentuhan dengan estetika. Memasak bukan lagi persoalan bagaimana masakan bisa untuk disantap dan mengenyangkan perut. Memasak kemudian menjadi sebuah karya seni yang membuat seniman di dapur ini dan masakannya menjadi sedemikian dihargai.
Tetapi juga kini pengertian sederhana pada masak memasak sedemikian melekat. Masakan untuk sekedar melepas perut dari deraan lapar. Entah bagainana diolah, entah pada prosesnya dedikasi, pada sebentuk kebersyukuran pemasaknya dan yang dimasakkan tak lagi penting. Memasak menjadi tak memiliki arti lebih. Untuk mereka yang beragama memasak akan menjadi rutinitas duniawi yang sama sekali lepas dari nilai-nilai sakral. Selebihnya orang-orang tak akan peduli seberapa tinggi nilai estetis pada makanan, yang penting mengenyangkan. Masakan-masakan instan lahir dari proses desakralisasi sentuhan kesadaran manusia pada yang sakral dan estetis. Mesin-mesin pembuat makanan bermunculan mengolah makanan tanpa doa dan harapan harapan. Sedang selebihnya hanya menghadirkan manusia-manusia penyedia makanan yang telah terkomputerisasi, berorientasi pada tuntutan kerja dan kendali majikannya.
Di rumah-rumah di mana menjadi tempat paling dasar peradaban dilahirkan, tradisi memasak sendiri perlahan mulai ditinggalkan orang orangnya . Warung dan restoran telah menyediakan kebutuhan perut mereka secara mudah. Mereka tak perlu lagi repot membeli bahan makanan, bumbu bumbu, jauh jauh ke pasar atau supermarket atau minumarket atau tak perlu capek menunggu tukang sayur lewat sekedar membeli bahan sayuran atau bahan lauk pauk lainnya. Dan tentu mereka tak perlu lagi menghabiskan waktu mengulek sambel dan lain seterusnya.
D

image

i tengah gencarnya desakralisasi dan menurunnya tradisi memasak sendiri, sejatinya dapat diambil saty pelajaran penting. Yakni semakin melemahnya kesadaran eksistensi kemanusiaan kita. Orang menjadi enggan mengenali arti hal hal sederhana di sekitar mereka. Beras, cabe, minyak, gula, garam, menjadi seonggok barang barang tak memiliki arti kecuali pemuas lidah dan perut kita.
Memasak juga merupakan proses belajar dan proses pewarisan tradisi dengan nilai dan karakter yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, memasak merupakan proses penggalian sedikit bagin dari ribuan potensi yang manusia miliki.
Kemudian kadang kita akan merindukan sesuatu yang tersimpan di hati kecil kita, bahwa semakin kita melepaskan kerumitan memasak dan menggantinya dengan makanan instan dan olahan warung untuk keluarga kita, semakin merasa kita bahwa kita semakin tak memiliki apa apa. Terlebih penghargaan kita pada masakan dan potensi kita. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s