Cahaya Lilin dalam Gelap

Gus Dur itu ibarat orang yang menyalakan lilin dalam kegelapan. Banyak aspek kebudayaan kita gelap. Struktur kehidupan sosial-politik kita juga gelap.

Pertama, penguasa otoriter, dan mereka yang masih tetap bertangan besi, kelihatan jelas ingin hidup seenaknya seperti di zaman kegelapan beberapa abad yang lalu. Kedua, kelompok- kelompok sosial keagamaan— terutama para pembawa misi perjuangan agama, yang membolehkan sikap dan tingkah laku serbakeras dan memuja kekerasan— tampak makin terbuka untuk mendominasi kehidupan, seolah hidup ini milik mereka sendiri.

Di tengah proses di mana hidup makin tertata secara terbuka dan adil serta manusiawi banyak kekuatan budaya, kekuatan kemasyarakatan, dan politik, yang merasa bersukacita hidup dalam kegelapan etis maupun kemanusiaan, seolah fajar baru kemanusiaan di zaman ini bukan hanya tak memengaruhi mereka, melainkan bahwa dengan sengaja mereka musuhi. Pagi ini ada sebuah media yang mengenang kembali Gus Dur.

Karikaturnya, yang khas Gus Dur, ditampilkan di bawah penjelasan ”Mengenang Gus Dur”. Ungkapan bijaknya dikutip kembali: ”Agama melarang ada perpecahan, bukan perbedaan”. Ada penjelasan tambahan: Gus Dur dikenal sebagai tokoh bangsa yang memberikan tempat lebih layak bagi kaum minoritas di Indonesia. Kata ”dikenal” di sini sebuah ”kredit” yang diberikan kepadanya.

Selengkapnya: Arrahmah.co.id – Cahaya Lilin dalam Gelap

Bintang Timur Press

Gus Dur itu ibarat orang yang menyalakan lilin dalam kegelapan. Banyak aspek kebudayaan kita gelap. Struktur kehidupan sosial-politik kita juga gelap.

Pertama, penguasa otoriter, dan mereka yang masih tetap bertangan besi, kelihatan jelas ingin hidup seenaknya seperti di zaman kegelapan beberapa abad yang lalu. Kedua, kelompok- kelompok sosial keagamaan— terutama para pembawa misi perjuangan agama, yang membolehkan sikap dan tingkah laku serbakeras dan memuja kekerasan— tampak makin terbuka untuk mendominasi kehidupan, seolah hidup ini milik mereka sendiri.

Di tengah proses di mana hidup makin tertata secara terbuka dan adil serta manusiawi banyak kekuatan budaya, kekuatan kemasyarakatan, dan politik, yang merasa bersukacita hidup dalam kegelapan etis maupun kemanusiaan, seolah fajar baru kemanusiaan di zaman ini bukan hanya tak memengaruhi mereka, melainkan bahwa dengan sengaja mereka musuhi. Pagi ini ada sebuah media yang mengenang kembali Gus Dur.

Karikaturnya, yang khas Gus Dur, ditampilkan di bawah penjelasan ”Mengenang Gus Dur”. Ungkapan bijaknya dikutip…

View original post 518 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s