Syeikh Mutamakkin: Perlawanan Kultural Agama Rakyat

 

Syekh Mutamakkin: Perlawanan Kultural Agama Rakyat

Syekh Mutamakkin: Perlawanan Kultural Agama Rakyat

Sejarah memukau ketika ia merupakan sebuah cerita konfrontasi. Buku yang ditulis Zainul Milal Bizawie ini, dalam arti tertentu sebuah catatan sejarah, mengundang kita untuk mengikutinya karena ia meneruskan sebuah tema yang sering muncul dalam telaah tentang Islam, sebuah tema yang, seperti dikatakannya sendiri dalam bab pertama, berkisar pada ‘perdebatan antara penganut mistik dan syari’ah’.

Milal meletakkan tokoh dalam telaahnya ini, Syekh Ahmad Mutamakkin, yang disebut sebagai seorang ‘neo-sufis’ yang hidup di tahun 1645-1740, dalam satu garis dengan cerita lain yang terkenal dari Jawa di awal perkembangan Islam: Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging, Sunan Panggung dan Amongraga. Mereka dikenal sebagai penganut tasawuf yang mengalami prosekusi dari yang berkuasa, bahkan ada yang dikisahkan sebagai dibakar hidup-hidup – barangkali gema dari cerita yang lebih mashur dan memikat dalam sejarah Islam di Timur Tengah, yakni cerita tentang Husain ibn al-Hallaj yang wafat di sekitar tahun 922.

Yang bagi saya membuat tema Milal penting ialah karena ia mau tak mau terkait dengan konfrontasi yang sekarang terjadi – yang di kalangan pemikir dan aktivis Islam kini sangat dikenal –antara kecenderungan skriptualis di satu pihak dan kecenderungan yang non-skriptualis (baik yang disebut ‘liberal’ ataupun ‘post-tradisional’) di lain pihak. Tema ini bisa bermanfaat buat dibahas, sebab bila kita meninjaunya secara lebih luas, ketegangan yang sama juga terjadi dalam pengalaman umat beragama yang lain, terutama di kalangan Kristen, dari mana pengertian ‘fundamentalisme’ lahir; ‘fundamentalisme’, dalam arti tertentu, adalah pandangan yang cenderung secara harfiah memberi tafsir atas Alkitab.

Dari satu segi, ketegangan itu juga adalah ketegangan antara apa yang saya sebut, untuk mudahnya, sebagai keharusan ‘kongregatif’ dalam agama dan dorongan ‘idyosinkratik’ dalam iman. Gellner pernah mengatakan bahwa agama bersifat ‘merayakan komunitas’, tapi agaknya – dengan hanya mengambil kecenderungan kongregatif dalam agama — ia tak sepenuhnya benar. Apa yang oleh William James, dalam karyanya yang klasik hampir seratus tahun yang lalu, disebut sebagai ‘pengalaman religius’ (religious experience) pada dasarnya menunjuk ke sebuah fenomena yang unik, yang personal, yang tak bisa disama-ratakan begitu saja: agama, bagi James, adalah ‘sentuhan nasib pada diri individual’ (individual pinch of destiny). James tentu saja mencurahkan perhatiannya kepada individu-individu yang mengalami agama sebagai ‘demam yang akut’, dan bukan agama yang dijalani oleh kaum mukminin biasa, yang bagi James merupakan ‘kehidupan agama lungsuran’ (second-hand religious life). Agama, bagi James, adalah “rasa, laku dan pengalaman manusia individual dalam kesendirian mereka, sepanjang mereka menemukan diri mereka sendiri dalam berhubungan dengan apa yang mereka anggap ilahiah (divine)”’… Selengkapnya Syeikh Mutamakkin: Perlawanan Kultural Agama Rakyat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s