Nama Mary atau Maryam dalam bahasa Aramaiknya adalah legenda yang dikenal hampir-hampir di seluruh bumi, sejak awal kemunculan Kristen hingga sekarang. Mengingat, nama ini disebutkan dalam kitab suci dua agama besar di dunia-Kristen dan Islam. Dalam Injil setidaknya nama ini muncul dalam Matius dan Lukas.
Disebutkan bahwa Maria atau Maryam adalah seorang perawan yang ditunangkan pada seorang yang berhati lurus, Yusuf. Dalam masa pertunangan itu Maryam hamil tanpa berhubungan dengan lelaki manapun. Sebuah proses kejadian yang diyakini sebagai sebuah mukjizat (miracle) yang diperlihatkan Tuhan, menitipkan anaknya pada rahim seorang perawan. Maryam dan Yusuf hidup pada masa kekaisaran Romawai di bawah kuasa Raja Herodes. Seorang raja lalim yang melakukan segala cara demi mencapai tujuan, termasuk ketika membunuh setiap bayi laki-laki di bawah dua tahun setelah mendengar pernyataan orang Majush yang mengatakan bahwa akan datang seorang juru selamat dari Bethlehem. Dalam al-Qur’an pun Mary atau Maryam juga disebutkan secara jelas. Bahkan secara khusus al-Qur’an mencantumkan nama tersebut sebagai salah satu surat di dalamnya.
Mary atau Maryam, tepatnya sejarah kebenaran legenda Mary film The Virgin Mary yang berdurasi 90 menitan ini bercerita. Sebuah film yang lebih tepat disebut sebagai film rekonstruksi daripada film Baca selebihnya »
Arsip untuk Oktober, 2008
Sejarah Yang Tak Pernah Objektif; Nihilitas Yang Selalu Menyertai
Posted in Sinopsis Film on Oktober 22, 2008 by bintangtimurSelamat Datang Pada Mimpi dan Puncak Kegilaan
Posted in Refleksi on Oktober 21, 2008 by bintangtimur
Apa hal menarik yang dapat dilakukan di dalam sebuah kelas yang membosankan dengan dosen yang kerap begitu menyebalkan?
Membaca mungkin. Menambah wawasan akan hal-hal yang mungkin juga baru pada diri, kalau beruntung mendapatkan buku yang tidak sama membosankan dan menyebalkan dengan suasana kelas dan dosen-dosen otoriter plus keras kepala. Kerapkali aku dapatkan buku-buku dengan tema dan isi murahan, mungkin saja ada manfaatnya tapi terkadang lebih sering nampak tidak begitu penting. Termasuk beberapa novel yang sedang digandrungi teman-temanku. Novel-novel naïf yang isinya tak lebih dari roman-roman picisan murahan. minim nilai-nilai sastra, lebih sarat berisi hal yang diorientasikan pada selera pasar. Lebih-lebih lagi pada novel-novel yang mengekor, terlihat kurangnya daya kreatifitas. Ketika ada seorang penulis menulis ini, yang lainpun ikut begini. Namanya penulispun kadang disama-samakan. Meskipun demikian aku masih bersukur, sebagai seorang penikmat sastra dapat juga sebagian novel-novel bagus penggugah muncul menggugah semangat dan memunculkan secercah keindahan pada diri. Dan seperti kata seorang dosenku, yang satu ini cukup qualified, hanya segelintir penulis yang mau menciptakan sebuah karya sastra yang serius. Baca selebihnya »